oleh

Menjaga Sagu Agar Tetap Laku

Di Maluku Utara, sagu (metroxylon spp) tak hanya dikonsumsi orang Tidore semata, namun dikonsumsi juga masyarakat pulau lain seperti Ternate, Bacan, Jailolo, Gebe, Patani, Morotai, Tobelo dan Buli. Mereka percaya sagu merupakan makanan yang kaya gizi tinggi seperti halnya beras, jagung, ubi kayu, dan kentang. Tepung sagu bahkan memiliki kandungan karbohidrat  yang sangat berguna bagi kesehatan

 

Junaidi Abd Karim (41) terlihat berjalan tergesa-gesa menuju rumahnya di Kelurahan Dowora, Tidore Pulau, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara. Setibanya dirumah, dengan suara agak keras, ia memanggil-mangil istrinya yang saat itu terlihat sedang duduk di teras rumah membersihkan buah pala hasil panen. Junaidi meminta istrinya untuk segera bergegas pergi ke depan balai kelurahaan untuk membeli tepung sagu pada pedagang yang menjajakannya lewat mobil pick up.

Pagi itu, sebuah mobil pick up  milik Kader Mahmud (49) sedang menjajakan tepung sagu hasil panen petani Oba, Halmahera secara murah di depan Balai Kelurahaan Dowora. Kader menjual tepung sagu dengan harga Rp 9 ribu per kilogram atau lebih murah Rp 3 ribu dari harga sagu yang dijajakan pedagang di pasar Sarimalaha yang mencapai Rp 12 ribu per kilogram.

“Cepatlah beli sagu yang dorang (mereka) ada jual di mobil, jangan sampai habis,”kata Junaidi pada istrinya kamis beberapa waktu lalu.

Bagi keluarga Junaidi, tepung sagu sudah menjadi salah satu sumber makanan pokok (staple food)  yang harus disajikan setiap hari. Di rumahnya tepung sagu biasa diolah menjadi makanan seperti popeda yang biasa disajikan dengan kuah ikan  dan aneka ragam sayur. Keluarga Junaidi kerap menjadikan tepung sagu sebagai makanan penganti nasi jika sewaktu-waktu harga beras sedang naik.

Popeda  merupakan makanan terbuat dari aci sagu yang diaduk dalam air dingin dan kemudian disiram air panas hingga mengental dan terjadi perubahan warna. Di era tahun 1980-1990-an, Popeda  menjadi makanan pokok masyarakat Maluku Utara menyusul ubi kayu, jagung, ubi jalar dan ubi-ubian.

Menurut Junaidi, masyarakat Dowora biasanya memanfaatkan tepung sagu menjadi popeda di setiap acara syukuran seperti kawinan ataupun acara adat. Olahan tepung sagu wajib disediakan di meja saat makan saat siang tiba.

Di Maluku Utara, sagu (metroxylon spp) tak hanya dikonsumsi orang Tidore semata, namun dikonsumsi juga masyarakat pulau lain seperti Ternate, Bacan, Jailolo, Gebe, Patani, Morotai, Tobelo dan Buli. Mereka percaya sagu merupakan makanan yang kaya gizi tinggi seperti halnya beras, jagung, ubi kayu, dan kentang. Tepung sagu bahkan memiliki kandungan karbohidrat hingga 84,7 persen dan serat pangan 3,69 hinggga 5,96 persen. Sagu mengandung pati resisten, polisakarida dan karbohidrat rantai pendek yang sangat berguna bagi kesehatan.

“Torang (kami) dulu lebih banyak makan sagu, ubi dan kasbi ketimbang nasi. Tapi sekarang kebiasaan makan nasi lebih banyak dilakukan. Makanya saat lihat ada yang menjual sagu dengan harga murah, saya suruh istri cepat-cepat beli,”kata Junaidi yang dalam kesehariannya bekerja sebagai buruh bangunan.

Namun kebiasaan mengkonsumsi sagu di Tidore, ungkap Junaidi, pelan-pelan mulai berkurang. Masyarakat tak lagi mengkonsumsi sagu sebagai makanan pokok sejak 1997, dan sudah mulai beralih mengkonsumsi nasi. Pilihan itu dilakukan lantaran nasi dianggap merupakan makanan yang murah dan mudah didapat.

Tepung Sagu/Budi Nurgianto

Kuad Suwarno, Staf Pengajar  Fakultas Pertanian Universitas Khairun Ternate mengatakan, faktor paling dominan yang memperngaruhi terjadinya pergeseran pola konsumsi makanan pokok masyarakat Tidore dari sagu ke nasi adalah faktor ekonomi, sosial dan budaya. Masyarakat Tidore mulai memandang nasi sebagai jenis pangan yang memiliki tingkat status sosial lebih tinggi dibandingan jenis panganan lain. Nasi telah dianggap sebagai pangan masyarakat kelas menengah atas.

Ada juga faktor lainnya seperti makin sedikitnya tenaga kerja pengelolah tepung sagu dan menyusutnya luas kawasan hutan sagu sehingga mempengaruhi ketersediaan pohon sagu di Maluku Utara.Luasan kawasan hutan sagu di Maluku Utara, dalam kurun waktu sepuluh tahun tercatat terus mengalami penyusutan. Ketersedian luasan kawasan hutan sagu di Maluku Utara saat ini tak lebih dari 3.645  hektar dengan tingkat produksi hingga 1.403 ton pertahun. Padahal idealnya untuk menjadikan sagu sebagai makanan pokok 1,7 juta penduduk Maluku Utara, luasan kawasan hutan sagu haruslah mencapai 5 ribu hektar dengan tingkat produksi 3 ribu ton per tahun.

“Kondisi inilah yang kemudian mendorong banyak masyarakat Maluku Utara tak ingin lagi bekerja sebagai pengelolah tepung sagu. Mereka rata rata mengaku mulai sulit mendapatkan pohon sagu untuk diolah,”ujar Kuat

Berdasarkan laporan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, luas kawasan hutan sagu di Maluku Utara, sepuluh tahun sebelumnya mencapai 5431  hektar dengan tingkat produksi mencapai 8961 ton pertahun. Angka itu terus menurun seiring tingginya praktek pembukaan lahan untuk  kawasan pemukiman baru dan reklamasi. Luas kawasan hutan sagu di Maluku Utara per desember 2017 mencapai 3.641 hektar dengan tingkat produksi sagu mencapa seribu ton per tahun.

Di Kota Tidore Kepulauan sendiri, luas kawasan hutan sagu menyisahkan 179 hektar yang tersebar di tiga kecamatan dengan tingkat produksi sagu 150 ton per tahun, Padahal tiga tahun sebelumnya di tahun 2014, kawasan hutan sagu di daerah ini mencapai  241 hektar dengan tingkat produksi mencapai 200 ton pertahun.

Data Dinas Pertanian Provinsi Maluku Utara (2016), sedikitnya ada 832 rumah tangga di Maluku Utara yang bekerja sebagai pengelolah tepung sagu. Jumlah ini mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yang mencapai 1120 rumah tangga.

“Kalau dibandingkan dengan pekerja sumber pangan lain seperti beras tentu sangat jauh berbeda. Pekerja sumber pangan seperti beras di Maluku Utara mencapai 16.584 rumah tangga atau sekitar enam belas kali lipat dari pengelolah tepung sagu,”ungkap Idham Umasangaji, Kepala Dinas Pertanian Provini Maluku Utara.

Hasil penelitian Fakultas Pertanian Universitas Khairun Ternate (2016) menemukan, pengelola sagu di Maluku Utara rata-rata merupakan pekerja usia produktif antara umur 20-53 tahun. Tenaga kerja pengelolah tepung sagu terbanyak berada pada  usia 40-53 tahun atau mencapai 41,86 persen. Sementara pekerja pada usia 26-39 tahun hanya 22.09 persen, Selebihnya adalah usia 54-67 tahun yang mencapai 36,05 persen. Dari komposisi usia pekerja ini memperlihatkan bahwa pekerja pengelola sagu sesungguhnya merupakan usia rata-rata agak tua.

Idham mengungkapkan, banyaknya masyarakat Maluku Utara yang tak lagi ingin bekerja mengolah dan memproduksi tepung sagu dinilai berdampak pada ketersediaan tepung sagu di pasaran lokal. Tepung sagu makin sulit didapat. Akibatnya ketersedian lahan sagu mendorong tingkat konsumsi besar masyarakat Maluku Utara.

“Jadi bisa saya dikatakan kalau saat ini sudah banyak orang yang tak ingin lagi mau bekerja memproduksi tepung sagu. Karenanya tak heran kalau sagu tak lagi menjadi panganan pokok,”ujar Idham.

Ali Ibrahim, Wali Kota Tidore Kepulauan mengatakan  untuk mendorong sagu sebagai makanan pokok masyarakat, pemerintah membutuhkan beberapa langkah kebijakan jangka pendek dan menengah seperti melakukan konversi ketahanan pangan dan menjadi komoditas sagu sebagai skala prioritas pembangunan sektor pertanian. Pemerintah juga memerlukan peraturan daerah yang dapat digunakan menjadi dasar hukum untuk menjamin pengembangan panganan lokal ini sebagai makanan rumah tangga juga akan disusun.

“Jika itu bisa disiapkan pemerintah maka kebijakan untuk mengarahkan kemandirian pangan berbasis pada pangan lokal pasti bisa dilakukan. Karenanya itu memprioritas strategi pengembangan kapasitas pengelola sagu secara bertahap melalui program penyiapan tenaga pengelola sagu, penyiapan tenaga pendamping yang memiliki kompetensi di bidang pengelolaan sagu saat ini harus menjadi skala prioritas,”ujar Ali.

Menurut Ali, produksi tepung sagu di Kota Tidore Kepulauan tercatat hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga di tingkat  lokal. Produksi sagu Tidore belum mampu memenuhi kebutuhan industri dalam skala besar.

“Padahal prospeknya sangat menjanjikan di masa depan. Kawasan hutan sagu di Tidore yang belum digarap mencapai lebih dari 100 hektar dengan tingkat produksi mencapai 200 ton per tahun.”kata Ali.

Peliput : Budi Nurgianto

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed