oleh

Asa Baru Dari Barifola

Ternate,Databerita- Sinar matahari sore yang masih terasa panas, jam tangan menunjukan pukul 05.00 sore saat pria setengah baya itu membersihkan pelantaran halaman rumahnya dari sampah daun kering dan plastik. Dengan cekatan, pekerjaan membersihkan halaman rumah seluas 5×5 meter dapat diselesaikan dalam waktu tak kurang dari 30 menit.  Senyumnya terlihat jelas mengembang sesaat setelah pekerjaan selesai dilakukan.

Ia adalah Muhammad Tulaher Hadi (59), warga Kelurahan Santiong, Kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate yang beruntung rumahnya direnovasi berkat program barifola yang digagas Ikatan Keluarga Tidore. Ia tak percaya telah memiliki rumah layak huni ukuran 7×8 meter. Sebelumnya, rumah miliknya hanya beratapkan daun rumbia dan berdindingkan batang pohon sagu yang disusun berdiri dan miring.

“Sejak rumah permanen, saya sering membersihkan halaman rumah. Hampir setiah hari saya lakukan. Jujur saya masih tidak percaya, kalau rumah yang saya tinggali sekarang ini sudah permanen,”kata Muhammad Tulaher saat berbincang-bincang dengan databerita.id beberapa waktu lalu.

Suasana bahagia yang sama juga dirasakan Hamid Samsia (54), warga Kelurahan Jambula Kecamatan Ternate Selatan yang beruntung mendapatkan bantuan bedah rumah dari program sama. Hamid yang dalam kesehariannya bekerja sebagai buruh lepas, sebelumnya hanya memiliki rumah dengan ukuran 7×7 meter berdindingkan ayaman bambu. Atap rumahnya terbuat dari ayaman daun sagu. Kini rumah miliknya telah berubah menjadi bangunan permanen dengan tiga kamar tidur dan berlantaikan keramik.

Menurut Hamid, dengan adanya program barifola  dirinya semakin sadar membantu antar sesama manusia bisa menguatkan tali silaturahmi. Barifola merupakan motor pengerak semangat kebersamaan antar warga  yang baik untuk dikembangan. Tradisi ini dinilai dapat merajut rasa kesetiakawanan antar warga. Semuanya menjadi satu untuk saling membantu.

“Saya menganggap barifola  mempunyai manfaat yang luar biasa, terutama tentang rasa kebersamaan. Saya juga bersyukur bisa mendapatkan dampak langsung”ujar Hamid.

Program Barifola  merupakan tradisi gotong-royong membangun rumah warga tak mampu yang digagas Ikatan Keluarga Tidore Maluku Utara sejak tahun 2008.  Kini program ini sudah berhasil membangun sedikitnya ratusan unit rumah keluarga miskin secara swadaya.

Secara historis, tradisi ini mulanya berlangsung di abad ke-13. Kala itu yang pertama kali menginisiasi adalah Kesultanan Tidore membangun rumah warga untuk mewujudkan masyarakat sejahtera. Barifola sendiri berasal dari dua kata bahasa Tidore yaitu “bari” yang artinya saling membantu atau gotong royong dan “fola” yaitu rumah. Dengan demikian, barifola diartikan sebagai kegiatan bergotong-royong membangun rumah.

Mulai tahun 1990-an tradisi ini pelan-pelan mulai ditinggalkan dan hanya digunakan warga saat membangun rumah ibadah semata. Berjalannya waktu, tradisi ini pun mulai hilang, sebelum kemudian kembali dibudayakan Ikatan Keluarga Tidore  ditahun 2008.

Burhan Abdurahman, Ketua Ikatan Keluarga Tidore menceritakan awal gerakan tradisi barifola digagas. Saat itu program tersebut dilakukan setelah program ekonomi kerakyatan milik Ikatan Keluara Tidore dalam bentuk koperasi sembilan bahan pokok gagal. Dalam perjalanan koperasi yang dibentuk selalu mengalami kerugian dan membutuhkan pembiayaan cukup besar.

“Karena gagal, ditahun 2008 itulah, kami kemudian berfikir untuk mengagas model gerakan sosial yang memiliki nilai manfaat tinggi, maka kemudian dipilihlah program melestarikan tradisi barifola,”ujar Burhan.  

Sebagai langkah awal, Ikatan keluarga Tidore kemudian melakukan pengalangan dana dengan nama gerakan cala moi atau seribu rupiah. Gerakan ini bertujuan mendorong masyarakat Tidore yang ada di Ternate untuk bisa saling berbagi antar sesame dengan menyisihkan rejekinya meski hanya seribu. Hasilnya, dana yang terkumpul sebesar Rp 17 juta, dan dana ini kemudian digunakan untuk membangun rumah tak layak huni milik salah satu keluarga di Kelurahan Santiong.

“Jadi Inti dari tradisi barifola adalah beramal, ajang silaturrahim, dan membangkitkan budaya gotong- royong yang mulai ditinggalkan masyarakat,”kata Burhan.

Secara sosiologis, tradisi barifola dapat bermanfaaat meningkatkan dan mendorong tumbuhnya solidaritas social terhadap sesame manusia. Barifola bisa menjadi role model  tentang bagimana membangun ketakwaan social yang selama ini mulai rapuh oleh sifat individualitas. Barifola lebih menunjukan nilai  etos social karena melibatkan seluruh unsur masyarakat, yang lebih didasarkan pada rasa kepedulian.

“Tradisi barifola sesungguhnya merupakan tradisi budaya masyarakat Indonesia yang pada hakekatnya menitik beratkan pada memeratakan kepentingan bersama. Saya melihatnya tradisi ini baik dan bisa menjadi solusi menghilangkan kesenjangan sosial di masyarakat, yang diera saat ini lebih banyak dinilai dari ukuran materi,”ungkap Herman Oesman, staf pengajar sosiologi di Universitas Muhammadiyah Maluku Utara.

Munurut Herman, di Maluku Utara penilaian terhadap status kelas seseorang umumnya lebih banyak dilihat dari aspek materi dan jabatan yang dimiliki seperti rumah tempat tinggalnya. Semakin bagus dan mewah rumah yang dimiliki, seseorang tersebut semakin banyak yang menghormatinya, dan sebaliknya.

“Beruntung tradisi ini mulai kembali dilestarikan, minimal bagaimana menanamkan rasa kesetiakawanan. Sebagai akademisi saya mengaparesiasinya,”kata Herman.

Membantu Orang Miskin

Rizal Marsaoly Sekretaris Ikatan Keluarga Tidore mengungkapkan, untuk bisa memperoleh bantuan bedah rumah dari program barifola  tidaklah mudah. Ikatan Keluarga Tidore memiliki standar penilaian tersendiri untuk kelompok keluarga yang akan dibantu. Standar penilaian itu seperti, tergolong masyarakat miskin dengan tingkat pendapatan keluarga bawah rata-rata atau minimal pendapatan Rp 700 ribu sebulan.  Selain itu, status keluarga sebagai duda atau janda, artinya keluarga yang akan dibantu merupakan orang yang tak lagi berkeluarga utuh namun memiliki tanggungan ekonomi yang cukup besar.

Penilaian lain adalah tanah dan rumah yang akan dibangun merupakan hak milik sendiri dan tidak bermasalah secara hukum, atau dalam sengketa. Serta harus mendapatkan rekomendasi dari aparat kelurahan yang menjelaskan keluarga yang akan dibantu benar-benar kelompok keluarga tak mampu.

“Dan yang terakhir adalah lulus supervisi tim yang dibentuk Ikatan Keluarga Tidore. Jika syarat ini terpenuhi maka kami akan memberikan bantuan tersebut. Standar nilai ini diberlakukan dengan tujuan agar program barifola  benar benar tepat sasaran dan bisa dirasakan keluarga yang membutuhkan,”ujar Rizal.

Untuk membangun satu unit rumah keluarga tak mampu, ungkap Rizal, Ikatan keluarga Tidore mengeluarkan sedikitnya mengeluarkan dana sebesar Rp 90 juta. Selain itu pihaknya juga melibatkan lebih dari 30 orang tenaga kerja suka rela yang terdiri dari 5 orang tenaga tukang dan 25 orang tenaga lapangan. Tenaga kerja sukarela yang terllibat seluruhnya merupakan masyarakat Tidore.

“semuanya dilakukan dengan suka rela, hanya tuan rumah yang diwajibkan menyediakan teh dan kopi untuk tukang, untuk makan siang disiapkan kelompok ibu-ibu dari ikatan keluarga Tidore. Jadi semuannya murni gotong royong,”kata Rizal.

Kini sejak  dicetuskan sejak 2008, tradisi barifola  telah sukses membangun lebih dari 180 rumah tak layak huni milik keluarga tak mampu di empat kota seperti Tobelo, Morotai, Bacan, dan Ternate. Dana yang digunakan untuk pembangunan ratusan rumah tersebut lebih dari Rp 10 milyar yang setiap unit rumah dibangun dibutuhkan dana Rp 60-80 juta.

Peliput : Budi Nurgianto

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed