oleh

Melawan Diskriminasi Terhadap Penderita HIV

Jakarta,Databerita– Stadion badminton di Pasar Festival, Kuningan, Jakarta Selatan menggelora. Mata para penonton terus mengikuti pantulan bola liar dari raket Augustyan Lin (39) yang berpasangan dengan Dessy Christina (41). Ganda campuran asal Kalimantan ini sedang memperebutkan juara I melawan pasangan asal DKI Jakarta dalam rangka kompetisi IDEFest yang diselenggarakan Buddha Dharma Indonesia.

Akhirnya, babak final dimenangkan pasangan Augustyan dan Dessy dengan skor akhir 21 : 15. Sorak sorai penonton makin membahana. Setelah memeluk beberapa kerabatnya saking senangnya, tubuh Augustyan langsung ambruk. Tapi lelaki asal Palangkaraya ini masih tetap sadar. “Capek banget,” katanya.

Hari itu Augustyan bertanding sebanyak 7 set di ganda campuran dan ganda putra. Untuk kompetisi ganda putra, ia belum berhasil mendapatkan juara.

Augustyan sebenarnya tak mendapat restu dari dokter untuk bertanding dalam kompetisi tingkat nasional ini. Virus HIV di tubuhnya masih terus menyerang pertahanan. “CD4 tubuhku sekarang itu 219. Artinya, hidupku tinggal sekitar 40 persen dari yang normal,” katanya.

Augustyan divonis positif HIV sejak awal 2016 lalu. Berat badannya turun 12 kilogram. Batuk terus dan napsu makan berkurang. Ia telah kena HIV stadium 3. Semestinya menurut catatan dokternya, Ia sudah masuk level AIDS karena telah terinfeksi 8 penyakit oportunistik yang biasa menyerang ketahanan tubuh. Ia bangkit dan menghadapi kehidupan seperti biasanya setelah keluarga memberikan dukungan.

“Hal yang tidak saya sangka justru datang dari dunia kerja. Pihak perusahaan langsung meminta saya untuk mengundurkan diri. Beberapa teman baik saya juga menjauh,”ujarnya.

Rini Mahari, dalam penelitihannya tentang stigma dan diskriminasi terhadap penderita HIV AIDS tahun 2014 bahkan menemukan perlakukan diskriminasi terhadap penderita HIV AIDS tidak hanya terjadi di lingkungan kerja semata. Dalam pemberian pelayanaan kesehatan, penderita HIV AIDS juga diberlakukan berbeda dan kerap dipinggirkan.

Hampir semua penderita HIV AIDS dalam penelitiannya mengaku pernah mengalami perlakukan diskriminasi seperti diskriminasi dalam pemberian pelayanan kesehatan. Rata-rata penderita HIV AIDS diberikan kode atau tanda setiap melakukan pemeriksaan. Penderita juga diisolasi dengan melakukan tindakan medis tanpa memberikan informed consent.

“Kesimpulannya praktek pemberian stigma dan perlakukan diskriminasi terhadap penderita HIV AIDS pada pelayanan kesehatan masih sering terjadi, dan itu terjadi mulai dari pendaftaran IGD, rawat inap, ruang operasi sampai di ruang jenazah,”ungkap Rini.

Agyta Gaghenggang, Mahasiswa Universitas Sam Ratulangi Manado dalam penelitian 2013 bahkan menemukan praktek diskriminasi terhadap penderita HIV AIDS merupakan praktek yang tidak sesuai dengan aturan hukum yang berlaku di Indonesia. Praktek tersebut merupakan bentuk pelanggaran HAM yang tidak sesusai dengan pasal 2 Undang Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Dengan kata lain, diskriminasi terhadap seseorang tidaklah dibenarkan, maka penderita HIV/AIDS sudah sepatutnya mendapatkan perlindungan hak asasi, jaminan pelayanan kesehatan yang nyata dari pemerintah dan kelayakan.

Dibutuhkan Peran Masyarakat
Penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (2013) mendapatkan, untuk mengurang praktek diskiriminasi terhadap penderita HIV AIDS dibutuhkan peran masyarakat dan pemerintah secara massif. Pemerintah harus bisa membuat kebijakan yang mampu memberikan pemahaman yang utuh tentang kehidupan penderita HIV AIDS.

Undang-undang saja tidak cukup untuk mengatasi persoalan tersebut, karena undang undang maupun peraturan yang ada belurn menyinggung persoalan HIV AIDS secara komprehensif. Apalagi Isu tentang stigma dan diskriminasi terhadap HIV AIDS belum mendapat perhatian serius.

Oleh karena itu, peran dari masyarakat juga menjadi sangat penting karena mereka mampu membuka suatu dialog dengan masyarakat mengenai HIV AIDS. Tujuannya untuk menghilangkan mitos yang cenderung mendiskriminasi penderita HIV AIDS. Dan keterlibatan peran masyarakat dan pemerintah dalam mengurangi praktek diskriminasi terhadap penderita HIV AIDS dinilai bisa berdampak positif terhadap upaya mengontrol laju penyebaran virus tersebut.

Data Kementrian Kesehatan, penyebaran virus HIV AIDS di Indonesia terlihat terjadi hamper merata di semua provinsi. Dengan kata lain tidak ada satu provinsi di Indonesia yang tidak ditemukan kasus HIV AIDS. Dari tahun 2005-2017 penderita HIV di Indonesia telah mencapai 242 ribu orang, dan penderita AIDS mencapai 87 ribu orang. Dari jumlah itu rata-rata penderita HIV AIDS didominasi anak muda dengan usia 25-45 tahun yang mencapai 69,6 persen. Pola penyebarannya pun beragam dari berhubungan seks bebas hingga heteroseksual.

Menurut Opie Anarti, aktivis Rorano Maluku Utara, masyarakat memiliki peran yang cukup strategis dalam upaya penanggulangan HIV AIDS. Pengalaman menunjukkan bahwa upaya promotive preventive cenderung banyak dilakukan oleh sektor komunitas berbasis masyarakat. Keterlibatan masyarakat dalam penangulangan HIV AIDS dapat memperbaiki partisipasi masyarakat tentang bahayanya HIV AIDS.

“Saya juga sangat berharap media ikut juga membantu mensosialisasikan pendampingan penderita HIV AIDS ke masyarakat. Minimal menyakinkan dan memberi pemahaman bahwa virus ini tidak akan mudah menular, kecuali dari jarum suntik dan hubungan seks tidak aman,”ujar Opie.

INDEPEDEN.ID-BUDI NURGIANTO

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed