oleh

Ancaman Krisis Air di Kota Kecil

Raut wajah Burhan Abdurahman, Wali Kota Ternate mendadak berubah saat membaca berita disalah satu surat kabar daerah tentang kebijakan rencana kenaikan tarif air yang dilakukan PDAM Ternate. Ia pun sesegera memanggil Kepala PDAM Kota Ternate guna dimintai penjelasan terkait rencana itu.

“Menaikan tarif boleh saja, tapi harus dibarengi dengan peningkatan pelayanan. Saya sudah menyuruh staf memanggil Direktur PDAM.  Saya ingin dengar alasan rencana menaikan tarif air,”kata Burhan kepada wartawan belum lama ini.

Rencana kenaikan tarif baru air bersih yang dilakukan PDAM Kota Ternate lantaran imbas dari meningkatnya biaya operasional dalam mendistribusi layanan air bersih untuk kebutuhan warga Kota. Biaya kenaikan tarif baru itu rencananya digunakan untuk memaksimalkan pelayanan distribusi air dan membiayai program penciptaan sumur baru di wilayah Kota Ternate.

Pada tarif baru, konsumsi pemakaian air akan diatur sesuai dengan standar kebutuhan dasar air minum yaitu sebesar 60 liter per orang per hari atau 10 meter kubik per kepala keluarga per bulan. Jika konsumsi diatas standar kebutuhan dasar air minum maka semua kelompok pelanggan akan dikenakan tarif baru.

Belakangan penjelasan Direktur PDAM ini membuat Wali Kota Ternate pun kemudian setuju dengan rencana kenaikan tarif baru air. Ia  menyarankan PDAM Ternate untuk segera berkonsultasi dengan DPRD Kota Ternate tentang rencana kebijakan tersebut. 

Perintah Wali Kota Ternate direspon cepat PDAM Kota Ternate. Seminggu setelah pertemuan dengan  Wali Kota, PDAM Kota Ternate langsung menemui pimpinan DPRD untuk menyampaikan rencana kebijakan menaikan tarif air. Alih-alih mendapatkan penolakan, rencana kenaikan tarif air itu langsung disetujui semua pimpinan DPRD.  

Menurut Merlisa, Ketua DPRD Kota Ternate, awalnya semua pimpinan DPRD Kota Ternate menolak rencana PDAM menaikkan tarif air karena pelayanan yang diberikan dinilai masih belum maksimal. Selain itu PDAM juga kerap dilaporkan mendapatkan cukup banyak keluhan terkait sistim layanan distribusi air. 

“Setelah medengar alasan PDAM, sepertinya kami harus menyetujui kenaikan tarif. Apalagi tahun depan, PDAM tidak lagi mendapat subsidi dari pemerintah dan dan kenaikan tarif air merupakan langkah yang tepat mengatasi persoalan PDAM membiayai dirinya,”kata Merlisa kepada Wartawan Selasa 4 Desember 2018.

Burhan Abdurahman kepada Ekuatorial Juli 2018 mengatakan, Pemerintah Kota Ternate sebenarnya sudah memiliki beberapa langkah untuk mengatasi masalah air untuk kebutuhan dasar warga kota. Langkah tersebut adalah dengan membangun system pengelolaan air minum (SPAM) secara terpadu dan perluasaan kawasan resapan air.

“Untuk konsepnya sedang dibahas. Kami mengandeng Ditjen Cipta Karya Kementerian PU untuk membangun systim tersebut,”kata Burhan.

System pengelolahan air minum yang digagas Pemerintah Kota Ternate dinilai menjadi solusi baik dalam mengatasi persoalan krisis air di Kota Ternate dan dapat dapat meningkatkan pelayanan air untuk warga kota hingga 70 persen.

Pemerintah Kota Ternate bahkan sudah menyiapkan lahan untuk system pengelolahan air minum dan menggalakan pembuatan 35 sumur resapan di wilayah sekitar sumber air ake gale di Kecamatan Ternate Utara. Pembuatan sumur resapan ini dilakukan untuk memudahkan air hujan meresap dalam tanah sehingga permukaan air bawah tanah bisa dipertahankan 

“Selain itu saya juga sudah memerintahkan Dinas Pekerjaan Umum Kota Ternate untuk membangun tembok di pantai untuk meredam intrusi air laut, serta mengajak masyarakat melakukan program nabung air yaitu gerakan membuat instalasi penampungan air hujan yang diintegrasikan dengan sumur resapan,” sambung Burhan.

Tanda-tanda ancaman krisis air bersih di Kota Ternate sesungguhnya sudah dapat terlihat sejak  dua tahun terakhir. Delapan bulan lalu misalnya, warga perumahan Dipo Mart, Kelurahaan Tanah Tinggi Barat, Ternate Tengah, Kota Ternate terpaksa memesan kebutuhan air bersih setiap pekannya dari pemasok kebutuhan air bersih lantaran pelayanan distribusi air bersih yang diberikan PDAM Ternate kerap tak berjalan.

Sistem distribusi kebutuhan air bersih yang diberikan PDAM untuk pelanggan kompleks perumahan Dipo Mart, Tanah Tinggi Barat hanya diberikan dua hari dalam seminggu, itupun alirannya hanya berlaku untuk tiga jam layanan.

Muhamad Sanusi (29), salah satu warga perumahan Dipomart mengatakan,  untuk memenuhi kebutuhan air, warga kompleks perumahan membeli kebutuhan air bersih pada pemasok air yang menawarkan jasa pengangkut air bersih lewat mobil pick up dengan harga Rp 80 ribu per 1200 liter.

Dalam sebulan setiap satu keluarga di kompleks perumahan rata-rata membutuhkan  2400 liter atau dua kali pemesanaan air pada penyedia jasa pengangkut air. Sedikitnya 80 keluarga atau 300 jiwa belum merasakan pelayanan saluran disrtribusi air selama 24 jam.

“Ada juga rumah tangga membutuhkan empat ribu liter setiap bulan.  Kalau saya untuk bulan ini saja sudah dua kali memesan kebutuhan air bersih pada penyedia jasa angkutan air bersih,”ujar Sanusi.

Setahun sebelumnya, kondisi lebih pernah dialami 500 kepala keluarga empat kelurahan, Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate. Mereka yang tinggal tak jauh dari PDAM Kota Ternate bahkan pernah hampir sebulan tak mendapatkan pasokan kebutuhan air bersih.

Sumber mata air Ake Gaale  di Kelurahaan Toloko biasa digunakan untuk memenuhi kebutuhan air bersih tak lagi dapat dikonsumsi, lantaran mata air sudah terasa payau akibat telah terintrusi air laut,

Satu-satunya pasokan kebutuhan air bersih dari PDAM Ternate untuk warga empat kelurahaan adalah cadangan air yang ditampung pada kolam ukuran besar di belakang kantor PDAM Toloko.

Data PDAM Kota Ternate hingga Desember 2017, tingkat konsumsi kebutuhan air di Kota Ternate tercatat mencapai 90 ribu liter per orang perhari atau dalam sebulan mencapai  2,7 juta liter dikonsumsi  28.505 pelanggan atau 155.430 orang.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, PDAM memanfaatkan sedikitnya tujuh sumur, mencakup dua sumur dangkal, tiga sumur dangkal dalam, satu mata air dan danau  yang terletak di tiga kecamatan seperti Ternate Utara, Ternate Tengah dan Ternate Selatan. Pada Februari 2019. PDAM juga sudah melakukan uji coba pengunaan sumber air danau Ngade untuk difungsikan memenuhi kebutuhan air di Kota Ternate.

Setiap satu sumur menghasilkan 33 liter air perdetik atau 2,8 juta liter air per hari atau setara dengan 28 ribu kubik. Tujuh sumur menghasilkan 199 ribu kubik air per hari.

“Kebanyakan semua pasokan air baku  itu berasal dari sumur seperti di Kelurahaan Kalumpang, Skeep, Ubo Ubo, Falaraha dan Togafu. Dan  sistem penyediaannya dioperasikan tak hanya oleh PDAM,”kata Syaiful Jafar, Mantan Direktur PDAM Ternate pada Ekuatorial Senin 16 Juli 2018.

Badan Pusat Statistik Maluku Utara dalam buku putih sanitasi Kota Ternate tahun 2014 juga mencatat kebutuhan ideal air bersih untuk warga di Kota Ternate adalah 60-220 liter per orang per hari dengan cakupan pelayanan 55-75 persen.

Abdul Gani Hatari, Direktur PDAM Kota Ternate mengatakan tingkat konsumsi air bersih di Kota Ternate rata rata mencapai 160 liter per hari atau  4500 liter per bulan. Kondisi tersebut sudah diatas batas normal seperti diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Nomor 71 Tahun 2016 tentang Perhitungan Tarif Air Minum. 

“Untuk ukuran normal konsumsi air di Kota Kecil seperti Ternate idealnya harus 60 liter per orang perhari atau 180 ribu liter perbulan atau 10 meter kubik per kepala keluarga per bulan.  Karena itu kami saat ini sedang mengaturnya,”kata Gani Senin, 22 Januari 2019.

Penelitan yang dilakukan Ardiansyah dengan judul analisa kinerja sistem distribusi air bersih pada PDAM di Kota Ternate, diterbitkan Universitas Brawijaya Malang tahun 2012 menemukan, tingkat konsumsi air di Kota Ternate dapat mengakibatkan potensi kehilangan cadangan air hingga 0,2 liter per detik. Selain itu, tingginya konsumsi juga menyebabkan ancaman kebocoran pipa hingga 20 persen atau sebesar 0.002 liter per detik.

Jika digambarkan maka  ancaman kehilangan air akibat pipa bocor dalam sehari mencapai 172 liter air atau sebulan 5184 liter atau  setahun 62 ribu  liter. Dengan kata lain jumlah volume air yang hilang akibat pipa bocor dalam setahun setara dengan 24 bak air ukuran lapangan bola volly dengan kedalaman 6 meter. 

Balai Wilayah Sungai Kementerian Pekerjaan Umum Provinsi Maluku Utara memprediksi cadangan  air tanah di Kota Ternate tak lagi bisa mencukupi kebutuhan masyarakat hingga 20 tahun kedepan.

Hasil studi investigasi tentang desain dan detail pemanfaatan air tanah di Kota Ternate tahun 2017 yang dilakukan Balai Wilayah Sungai Provinsi Maluku Utara mencatat, cadangan air tanah di Kota Ternate hanya bisa mencukup kebutuhan masyakat Kota Ternte hingga tahun 2030 atau Kota Ternate diprediksi mengalami krisis air bersih pada tahun 2030.

Kawasan paling terdampak dari krisis air tersebut adalah wilayah Utara Kota dan Kelurahaan di wilayah ketinggian seperti Jati, Tanah Tinggi, Ngade, Fatcei Moya,Torano, Marikurubu dan Kalumata Puncak.

Maraknya Kawasan Pemukiman Baru

Syarif Tjan, pemerhati air dan sanitasi di Kota Ternate mengungkapkan, ada tiga faktor utama yang menyebabkan terjadinya penyusutan cadangan air tanah yang menyebabkan krisis di Kota Ternate. Pertama adalah faktor hilangnya atau menyusutnya kawasan resapan air akibat maraknya pembangunan kawasan pemukiman baru. Faktor ini membuat luasan daerah resapan air di Kota Ternate lambat laun semakin menyempit.

Berdasarkan data Badan Lingkungan Hidup Kota Ternate Tahun 2017, luasan daerah resapan air di Kota Ternate mencapai 400 hektar yang tersebar di Kecamatan seperti Ternate Utara, Tengah dan Selatan.

“Idealnya pulau sekecil Kota Ternate harus memiliki daerah resapan air seluas seribu hektar,”kata Syarif yang ditemui Ekuatorial, tiga kali pada Rabu 18 Juli 2018 dan Sabtu 04 Agustus 2018 serta 28 Februari 2019 di Ternate.

Faktor Kedua lanjut Syarif, adalah faktor tingginya pengunaan sumur bor sebagai layanan untuk memenuhi kebutuhan air. Dalam tiga tahun terakhir, masyarakat  Kota Ternate mulai marak  mengunakan sumur bor untuk pemenuhan kebutuhan air.

Kondisi tersebut dinilai dapat membuat cadangan debet air tanah menyusut dan menyebabkan terjadinya proses intrusi air laut sehingga air menjadi tidak layak lagi untuk dikonsumsi sebagai air minum.

“Dibeberapa wilayah seperti  Kecamatan Ternate Selatan,dan  Ternate Pulau, masyarakat cederung lebih banyak mengunakan sumur bor ketimbang layanan PDAM. Sejumlah hotel dan restoran bahkan diketahui membuat sumur bor dengan ukuran besar,”sambung Syarif.    

Ketiga yaitu factor jumlah penduduk. Ledakan penduduk di Kota Ternate yang tinggi. Dalam kurun waktu sepuluh tahun lonjak penduduk di Kota Ternate rata-rata mencapai 2,36 persen setiap tahunnya. Berdasarkan sensus penduduk, jumlah penduduk Kota Ternate tahun 2008 awalnya hanya mencapai 179 ribu jiwa dan melonjak menjadi 230 ribu di tahun 2017 atau bertambah 51 ribu jiwa dalam kurun waktu 10 tahun. Lonjakan inilah yang dinilai menjadi salah satu penyebab menurunnya ketersediaan air. Tingkat konsumsi air di Kota Ternate menjadi tinggi.

“Karena itu harus ada upaya menjaga keseimbangan antara air disedot dengan air tanah. Pemerintah Kota Ternate harus membuat kajian lingkungan hidup strategis untuk melihat kondisi hilangnya proses hidrologis air secara periodik. Langkah ini dipercaya dapat memetakan masalah krisis air secara ekologis maupun distribusi. Pemerintah juga harus membatasi hotel mengunakan sumur bor,”pinta Syarif.

Rizal Marsaoly, Kepala Dinas Permukiman Kota Ternate mengungkapkan, salah satu instrument paling baik dalam pengendalian konsumsi air di Kota Ternate adalah dengan cara penataaan kawasan permukiman warga. Dan Izin mendirikan Bangunan (IMB) merupakan alat yang baik untuk mengontrol batasan permukiman dan ketersediaan kebutuhan air.

“Waktu saya masih jadi kepala dinas tata kota, setiap orang yang ingin mengurus IMB diwajibkan menanam pohon dan membuat daerah resapan air. Tujuannya tidak lain adalah membuat tabungan air tanah. Tapi sekarang saya tidak tahu lagi karena pengurusan IMB ada di dinas PU,”kata Rizal, Senin 25 Februari 2019. 

Berdasarkan penelitian Kadri Daud, Dosen Fakultas Teknik Universtas Khairun Ternate dengan judul analisis penyediaan air bersih dengan system pompa air transmisi tahun 2015 memperlihatkan, satu sumur bor dengan kecepatan 3 liter per detik dapat menyedot air tanah hingga 90 liter per menit. Kondisi tersebut dinilai tidak sesuai dengan topografi Kota Ternate yang cenderung curam dan kerap menyebabkan air sangat cepat menuju pantai.

Menurut Abdul Kader D.Arif , Ketua Pusat Studi Geologi dan Bencana Maluku Utara, debet air tanah di Ternate memegang peran penting menjaga bagian penyusun tanah.  Air tanah merupakan sumberdaya alam terbarukan (renewable natural resources) yang memainkan peran penting pada penyediaan pasokan kebutuhan air bagi masyarakat. “Jika air tanah di Kota Ternate disedot secara berlebihan, dipercaya akan menganggu keseimbangan lapisan tanah dan air permukaan. Jadi masyarakat Ternate sebaiknya lebih bijak mengkonsumsi air,”kata Abdul Kader kepada databerita.id. (***)

Penulis : Budi Nurgianto

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed