oleh

Melawan Sampah Pesisir Kota

Iskandar Abd Rahman (39) terlihat tak bisa menyembunyikan rasa kesalnya saat melihat tumpukan sampah di pesisir pantai Kalumata, Kota Baru dan Lelong, Kota Ternate, Maluku Utara. Ia tak habis pikir masih menemukan ada orang yang membuang sampah sembarang tempat dan membiarkannya berserakan.  Sesekali ia memotret tumpukan sampah didepannya dan mengunggah di sosial media.  

Iskandar merupakan pengagas, komunitas sadar sampah di Kota Ternate yang merangkul anak muda sebagai agen utama kampaye. Pria dalam kesehariannya bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Pemerintah Kota Ternate ini, setiap minggunya selalu memantau kebersihan di pesisir pantai kota Ternate dari wilayan Selatan hingga Utara Kota secara sukarela. Banyak anak muda dilibatkan dalam gerakan pemantauan sampah ini.

Saat ini Komunitas bentukan Iskandar sudah menghimpun 750 orang relawan yang merupakan pemuda 15 Kelurahaan di Kota Ternate. Komunitas itu membentuk simpul hijau di sekolah-sekolah tingkat atas dan mengandeng Perguruan Tinggi dalam melakukan gerakan menyadarkan masyarakat soal sampah.

Ada tiga gerakan utama komunitas Sadar Sampah Kota Ternate yaitu, kampaye kesadaran sampah pada masyarakat dan pembuatan database serta pemetaan kawasan rawan sampah.     

“Saya hampir setiap hari keliling setelah menerima laporan soal sampah dari warga. Ada yang melapor melalui sosial media ada juga melalui pesan singkat,”kata Iskandar saat saat berbincang-bincang dengan databerita.id, Selasa, 18 Juni 2019.

Menurut Iskandar, sampah di Kota Ternate saat ini telah menjadi persoalan serius yang sudah harus mendapatkan perhatian semua pihak. Volume sampah di kota ini tercatat terus mengalami peningkatan segnifikan dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir.

Data Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup Kota Ternate, hingga 2018, volume produksi sampah yang dihasilkan masyarakat mencapai 50-60 ton perhari atau diperkirakan timbulan sampah mencapai 540 meter perkubik perhari. Dari jumlah itu, 54 persen sampah merupakan sampah organik dari rumah tangga dan sisanya sampah plastik serta elektronik.

Berdasarkan hasil pemetaan komunitas sadar sampah, ada lebih dari 28 kelurahan yang dibagi dalam tiga kawasan yang rawan terjadi tumpukan sampah di wilayah pesisir. Keluruhan itu berada di empat kecamatan yaitu Kecamatan Ternate Selatan, Tengah, Utara dan Ternate Pulau.    

Wilayah Kecamatan Ternate Selatan misalnya ada 6 kelurahan seperti  Kalumata, Bastiong, Mangga Dua, Kota Baru hingga Toboko yang rawan akan terjadi tumpukan sampah di pesisir pantai. Sementara di Kecamatan Ternate Tengah seperti Kota Baru, Pelabuhan Ahmad Yani, Tapak I, Pasar Gamalama, hingga Kampung Makasar, juga menjadi kawasan yang paling rawan terjadi tumpuhkan sampah di Pantai. Penyebabnya tak lain wilayah tersebut rata-rata merupakan kawasan padat penduduk.

“Inilah yang membuat  kenapa saya ikut berpartisipasi membentuk komunitas untuk menjaga kebersihan kota. Saya hanya ingin Ternate bersih, kebiasaan membuang sampah di selokan, jurang hingga pantai tak lagi dilakukan masyarakat Kota Ternate,”kata Iskandar.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat peningkatan volume sampah di Kota Ternate tak lepas dari tingginya angka pertumbuhan  jumlah penduduk dan ekonomi. Hingga 2017, jumlah penduduk Kota Ternate mencapai 223.111 jiwa dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 8,09 persen. Dari kondisi ini rata-rata masyarakat Kota Ternate diperkirakan membuang sampah antara 1-2 kilogram perorang perhari.

Kota Ternate sendiri merupakan kota kategori sedang dengan sistem pengelolaan sampah secara konvensional -dikumpul-angkut-buang. Rata-rata timbulan sampah dari masyarakat tidak berakhir seluruhnya pada tempat pembuangan akhir sampah (TPA). Ada  sekitar  53,621 kilogram per hari atau 53.62 ton perhari tidak dapat diangkut.

Jailan Sahil, dalam penelitiannya berjudul sistem pengelolaan dan upaya penanggulangan sampah di Kelurahan Dufa- Dufa,, Kota Ternate menemukan dari timbulan sampah masyarakat Kota Ternate hanya 48 persen sampah berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Sisanya 52 persen sampah tidak berhasil diangkut.

Menurut Mansur Abdurahman, Kepala Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup Kota Ternate, timbulan sampah tak terangkut petugas kebersihan adalah sampah yang banyak berada  di wilayah pesisir pantai, dan Kali Mati (berangka). Sampah ini merupakan sampah hasil pembuangan masyarakat dari daerah pemukiman padat penduduk.

Salah satu penghambat proses pengangkutan timbulan sampah di Kota Ternate sebenarnya adalah keterbatasan jumlah prasarana pengangkutan. Saat ini Dinas Kebersihan dan Lingukungan Hidup Kota Ternate hanya memiliki fasilitas pengangkut dengan kemampuan pengangkutan timbulan sampah sebesar 214 meter kubik perhari.

“Tapi semua sampah  ditempat penampungan sementara seluruhnya dapat terangkut. Hanya saja memang, sampah di pesisir pantai dan Kali Mati kami masih kesulitan untuk mengangkutnya,” kata Mansur kepada databerita.id, Rabu 19 Juni 2019.  

Untuk sampah di wilayah pesisir pantai, ungkap Mansur, sampah rumah tangga dan plastik yang paling dominan di temukan. Setiap bulannya, Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup mengangkut sampah plastik dari pesisir pantai hingga mencapai 14 ton atau setara dengan 3 mobil truk dengan kapasitas angkut 4 ton. Dari jumlah itu komposisi sampah plastik  pampers, diapers, serta sterofoam adalah yang paling  besar yaitu mencapai 7.50 persen, sementara sampah plastik kantong kresek 6,60 persen, plastik jenis 6.30 persen, Dan botol plastic kemasan minuman mineral 1 persen.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia mendapatkan, sampah plastik menjadi salah satu penyumbang sampah terbesar di Kota Ternate. Sampah plastik bahkan masuk pada kelompok empat besar penyumbang sampah di kota kategori sedang ini.

Hasil pemantauan sampah tahun 2017, diperkirakan 80 persen sampah yang ada di laut berasal dari daratan karena kurangnya layanan pengolahan limbah padat di daratan. Sekitar 70 persen sampah laut (yang berat), seperti glass, logam, dan peralatan mengendap ke dasar laut, sisanya (yang lebih ringan) mengapungatau mengambang, seperti plastik.

Wa Ode Rosnawati, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Khairun dalam penelitiannya tahun 2017 mengatakan tingginya volume sampah dipesisir pantai Kota Ternate tak lepas juga dari pengelolaan sampah rumah tangga masyarakat pemukiman atas laut.

Pengelolaan sampah pada kelompok masyarakat ini tergolong masih belum maksimal dengan kata lain masih tergolong sangat rendah. Mayoritas  atau 90,47 persen masyarakat di wilayah ini tidak memiliki tempat penampungan sampah sementara didalam rumah.

“Akibatnya setiap sampah yang ada langsung dibuang ke laut sehingga tidak perlu menyiapkan tempat penampungan sampah di rumah. Mereka juga tidak melakukan pemilahan antara sampah basah dan sampah kering pada tempat penampungan,”kata Wa Ode dalam penelitiannya.

Dampak Sampah Plastik di Pesisir Ternate

Malik Ibrahim, pemerhati Perkotaan Ternate mengatakan ada tiga dampak dari meningkatnya volume sampah plastic di persisir Kota Ternate. Pertama, menurunnya kualitas kesehatan masyarakat pesisir.  Microplastic yakni hasil pelapukan sampah plastic di pesisir pantai membuat kualitas lingkungan makin buruk dan akhirnya memudahkan masyarakat terserang penyakit. Kedua, sampah plastik di pesisir Ternate membuat ruang hidup nelayan hilang. Tak sedikit nelayan di Ternate berahli pekerjaan lantaran tak lagi mendapatkan ikan di pesisir pantai Ternate. Ketiga tumpukan sampah plastik di pesisir akan membuat pertumbuhan wisata di Ternate berjalan tak maksimal. Wisatawan dipastikan akan mengeluh karena sampah plastik di laut.   

“Apalagi jika musim penghujan tiba, pesisir di Ternate pasti akan penuh dengan sampah plastik kiriman. Budaya membuang sampah plastik sembarangan masyarakat di wilayah daratan kerap menyebabkan tumpukan sampah di wilayah pesisir,”kata Ibrahim pada databerita.id Jumat 05 Juli 2019.

Dampak dari sampah plastic di pesisir adalah kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil menjadi kotor penuh sampah. Selain itu ancaman microplastik pada ikan menjadi lebih besar. Hasil penelitian Muhammad Ridwan Lessy, Dosen Kelautan dan Perikanan Universitas Khairun Ternate menemukan adanya kandungan plastic pada lambung ikan cekalang yang dijual masyarakat di tiga pasar di Kota Ternate. Selain itu plastik juga ditemukan menutup dan memperlambat pertumbuhan terumbu karang.

“Ada beberapa  lokasi seperti  Kalumata, Falajawa, yang sampah plasticnya paling tinggi. karang. Pada 3-6 meter sampah plastic di wilayah ini bahkan ditemukan menutupi terumbu,”ujar Ridwan.

Kesadaran Masyarakat Rendah

Burhan Abdurahman, Wali Kota Ternate mengatakan, Pemerintah Kota Ternate  menargetkan dalam lima tahun kedepan volume sampah dapat berkurang secara segnifikan. Pemerintah Kota kini tengah menyiapkan skema pengurangan volume sampah secara partisipatoris. Artinya Pemerintah akan melibatkan masyarakat dalam menangulangi perngurangan volume sampah.

“Dengan melibatkan masyarakat maka secara tidak langsung tingkat kesadaran soal sampah diharapkan pelan-pelan akan meningkat.” kata Burhan kepada databerita.id,Kamis 06 Juni 2019.

Pengelolaan sampah yang diselenggarakan Pemerintah Kota Ternate selama ini, ungkap Burhan, banyak dilakukan bersama dengan masyarakat. Pemerintah Kota bahkan telah membuat Peraturan Daerah yang mewajibkan pelaku usaha, sekolah, perkantoran, untuk melaksanakan kegiatan pengelolaan sampah secara mandir dan menyediakan fasilitas pemilahan sampah.

“Semua pihak telah kami arahkan untuk lebih  pro aktif. Dengan cara itulan persoalan sampah bisa diatasi. Apalagi selama ini  penanganan sampah di Ternate masih terkendala anggaran dan prasarana,”ujar Burhan.

Ada tiga wilayah di Kota Ternate yang belum sepenuhnya bebas dari persoalan sampah yaitu kawasan pasar dan padat pemukiman, aliran sungai mati, serta pesisir pantai. Tiga wilayah ini sampai saat ini belum terbebas dari sampah.

Rizal Marsaoly, Kepala Dinas Pemukiman Kota Ternate mengatakan, untuk wilayah pemukiman padat penduduk, pihaknya sudah membuat satu perencanaan pembangunan yang berbasis pada lingkungan pesisir. Ada 16 kelurahan di pesisir Kota Ternate yang menjadi sasaran pengembangan kawasan. 

“Salah satunya adalah Kampung Makasar Timur. Di wilayah ini penataan pemukiman dan sistim pengelolahan lingkungannya akan diatur. Pengelolahan sampah juga tidak lepas menjadi perhatian,”kata Rizal.

Penulis : Budi Nurgianto

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed