oleh

Harapan Hidup Tarsius Siau

Tanpa alas kaki Philip Humiang berjalan mengintari perkebunan pala, yang masuk dalam kawasan hutan. Letaknya di Seputaran Danau Kapeta, Kecamatan Siau Barat Selatan, di Kabupaten Kepulauan Sitaro (Siau Tagulan¬dang Biaro), Sulawesi Utara. Sejak beberapa tahun belakangan ia telah kembali ke kampungnya, di Kampung Biau, Kecamatan Siau Timur Selatan, dari ‘petualangannya’ di sejumlah wilayah di Indonesia dengan sejumlah lakon pekerjaan.

Kini Philip telah memilih bekerja sebagai petani kebun pala. Kesehariannya pun diisi memantau kondisi tanaman pala yang berkisar ratusan pohon. Bermodalkan sabuah (pondok) di puncak danau sebagai tempat tinggal sementara, Pihilp menga¬ku ikut pula menjaga keberadaan hewan Tarsius Tumpara yang dia tahu termasuk jenis satwa yang dilindungi dan hanya ada di Pulau Siau.

“Saya suka saja menjaga agar hewan ini tidak punah. Karena, kalau bukan kita siapa lagi,” kata Philip sembari memantau kondisi sekitar dengan sesekali memungut buah pala yang jatuh ke tanah.

Tarsius Tumpara merupakan jenis satwa yang dilindungi. Dalam catatan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), satwa Genus Tarsius ini masuk dalam 25 satwa di dunia yang paling terancam punah. Di Siau, kawasan hutan di Danau Kapeta disebut-sebut merupakan tempat penyebaran terbanyak Tarsius Tumpara. Di sejumlah wilayah di Pulau Siau, keberadaan hewan ini bisa juga bisa ditemui. “Tapi yang saya tahu disekitar Danau Kapeta ini paling banyak,” cetus Philip.

Pria yang telah melewati usia setengah abad ini men¬yayangkan, keberadaan Tarsius Tumpara yang semakin sulit untuk ditemui. Kalaupun bisa dilihat, menurut dia, itu kare¬na hanya faktor kemujuran. Musim kemarau, perburuan, dan membuka lahan perkebunan baru oleh masyarakat dinilai se¬bagai penyebab utama jenis satwa langka tersebut mulai berkurang.

“Hewan ini suka di tempat banyak mengandung air, sep¬erti di pohon pandan hutan (pandanus tectorius), tapi karena musim kemarau, banyak yang mati. Belum lagi masyarakat yang berburu menggunakan senapan angin, ditambah dibuka lahan untuk perkebunan. Jadi memang jumlah hewan ini banyak berkurang,” tuturnya miris.

Meski sejauh ini upaya yang dilakukan menurut Philip, tanpa maksud apapun. Semua itu murni karena ingin menja¬ga kelestarian lingkungan termasuk keberadaan hewan Tarsius Tumpara ini. Hanya saja ia mengaku menghadapi kendala aki¬bat tanpa adanya legitimasi dari pemerintah daerah, kecamatan maupun kampung.

“Saya tak perlu uang. Hanya surat saja dari pemerintah sebagai tanda bahwa saya diberi kewenangan untuk menjaga. Itu saja sudah cukup. Karena beberapa kali pengalaman saat me¬negur masyarakat yang berburu sempat mendapat tantangan. Menurut mereka bukan hak saya untuk melarang,” imbuh lelaki yang masih kelihatan tegar bila dibandingkan dengan usianya itu.

Asal Nama dan Keunikan

Pria tua, 72 Tahun di Kampung Kapeta yang akrab dipang¬gil Opa Mathias mengungkap, asal muasal disebut Tumpara. Opa Mathias berkisah, sewaktu kecil di sekitar Danau Kapeta itu merupakan lokasi bermain bersama teman-teman sebayanya. Waktu itu banyak terlihat hewan ini, yang nampak melom-pat saat mencari makanan. “Sering disekitar danau itu, kami melihat tarsius tumpara itu melompat dari satu pohon ke pohon lainnya,” buka Opa Mathias mengenang.

Ia menuturkan, Tumpara diartikan dalam dua pengertian di bahasa daerah setempat, tumpa artinya meloncat dan ara artinya mengambil. Penyebutan nama Tumpara ini karena inden¬tik dari aktivitas hewan itu saat mencari makanan.

“Biasanya saat mencari makanan, hewan itu melompat lalu mengambil, maka disebut tumpara oleh masyarakat,” kisah Opa Mathias. Lain halnya dengan aktivitis Komunitas Pencita Alam Sitaro (KOMPAS) Buyung ‘Kunt’ Mangangue yang mengagumi keunikan hewan ini.

Buyung menuturkan, dari pengalaman pe¬nelusuran, ditemui pola hidup berpasangan sangat identik dengan hewan ini. “Pernah suatu kali saya melihat dua ekor tarsius, yang kemungkinan sedang mencari makan.

Tetapi kala itu see-kor tarsius jatuh, kemudian mati. Tak lama berselang seekorn¬ya lagi yang menjadi pasangan langsung menjatuhkan diri, dan kemudian juga mati,” ucap Buyung mengaku kagum mengenai rasa kebersamaan hewan ini bersama pasangannya itu.

Mengenai kehidupan berpasangan hewan ini ditutur pula Hengky Halim seorang warga yang tinggal di Kota Ulu, se¬bagai pemilik lahan di wilayah Balirangeng. Ketika itu menurut Hengky saat membuka lahan di tanah miliknya bersama beberapa orang pekerja sempat menemukan seekor Tarsius Tumpara.

“Sebenarnya kami lihat ada dua ekor, tapi seekornya tapi tak berhasil ditangkap. Tarsius yang berhasil ditangkap itu, kami coba pelihara, dengan memberikan serangga sebagai makanannya. Tapi selama dua hari, hewan itu tak mau makan. Dan hari ketiga akhirnya mati,” ungkap Hengky cukup bingung.

Kebijakan Pemerintah Daerah

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sitaro belakangan mu¬lai mengambil tindakan. Bupati Sitaro Toni Supit lewat Sekretaris Daerah Adry A Manengkey telah mengeluarkan warning berupa larangan perburuan Tarsius Tumpara.

“Hewan ini menjadi perhatian dan patut dilindungi, karena merupakan potensi daerah,” sebut Manengkey saat per¬temuan dengan salah satu pihak NGO.

Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (DPPK) Ir Novia Tamaka menyatakan, pihaknya memang be¬lum memiliki data pasti jumlah populasi Tarsius Tumpara hing¬ga 2015. Akan tetapi menurut Tamaka, sebagai langkah awal, di APBD 2016 mendatang sudah akan dicanangkan program untuk perlindungan hewan tersebut. “Memang kami agak ter¬lambat, tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali,” ucap Tamaka.

Ia bertekad, sambil menunggu program tahun, DPPK su¬dah akan action tahun ini. Awalnya akan berkoordinasi bersama pemerintah kecamatan, dan kampung untuk mensosialisasikan kepada masyarakat agar tidak berburu Tarsius Tumpara. Kemu¬dian nantinya akan dilanjutkan persiapan untuk penerbitan regulasi dari pemerintah daerah.

 “Minimalnya bisa diterbitkan perbup (peraturan bupati). Kami juga akan melibatkan semua pihak termasuk masyarakat dan kepolisian. Khusus untuk kepolisian terkait penertiban perburuan dengan penggunaan sen¬apan angin,” timpalnya.

Kepala Polisi Sektor Siau Barat Kompol Harry Bingku menandaskan soal penggunaan senapan angin segera akan ditertibkan. Masyarakat sebagai pemilik senapan angin den¬gan jenis kaliber 4,5 milimeter (mm) diminta tak boleh secara sembarangan menggunakan atau memiliki. “Tindakan ini kami ambil, sebagai penegakan aturan kepolisian, juga menghindari penyalagunaan,” katanya.

Ia pun menyatakan telah ada koordinasi dengan instasi terkait. Hal mana dibicarakan soal larangan perburuan satwa Tarsius Tumpara. “Sudah dibicarakan, maka kami juga akan menertibkan perburuan, apalagi lokasi penyebaran hewan tersebut masuk wilayah hukum kami,” sebut Kapolsek.

Penulis : Franky Salindeho

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed