oleh

Menjaga Mangrove, Meredam Bencana

Emanuel Wonas, warga Desa Kema Satu, Kecamatan Kema, Minahasa Utara, Sulawesi Utara terlihat serius mendengarkan penjelasan dari petugas Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Utara, Rabu 14 November 2018. Tak ada suara keluar dari mulut Emanuel saat petugas menjelaskan materi tentang pentingnya mangrove dalam meredam bencana tsunami. Ia hanya terlihat sesekali memperbaiki tempat duduk dan merapikan rambutnya yang terurai karena tertiup angin.

“Ini materi bagus, saya harus tahu. Apalagi rumah saya di pinggir pantai,” kata Emanuel saat berbincang-bincang dengan databerita, 14 November 2018.

Desa Kema Satu merupakan salah satu desa di Kecamatan Kema, Minahasa Utara, Sulawesi Utara yang masuk dalam kawasan rawan tsunami lantaran sebelah timur berhadapan langsung dengan laut Maluku dengan jalur sesar yaitu jalur kerak bumi yang kerap membuat gerakan penyebab utama gempa bumi. Jumlah penduduk desa ini kurang lebih mencapai 700 jiwa dan mayoritas merupakan nelayan. Kecamatan Kema sendiri merupakan bagian dari kawasan Teluk Tomini, teluk terbesar kedua di Indonesia setelah Teluk Cendrawasih. Wilayah Kecamatan Kema berbatasan langsung dengan Kota Bitung dan Kota Manado. Daerah ini merupakan salah satu daerah dengan potensi kekayaan alam seperti ekosistem mangrove.

Menurut Emanuel, kawasan hutan mangrove di Kema merupakan yang terluas di Kabupaten Minahasa Utara. Hampir seluruh pesisir Kema  bergantung hidup di kawasan tersebut. Rata-rata masyarakat hanya menjadikan wilayah tersebut untuk mencari ikan karang dan udang. Warga Kema belum mengetahui mangrove dapat dimanfaatkan untuk meredam gelombang tsunami. Warga hanya tahu mangrove hanya berguna menjaga kesimbangan biota laut dan ekosistem laut.

“Saya saja baru tahu mangrove itu bisa meredam bencana tsunami. Kebanyakan warga desa sini pengetahuan tentang tsunami relatif masih terbatas. Masyarakat umumnya hanya mengandalkan informasi dari televisi untuk belajar tentang tsunami,”kata Emanuel.

Data Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Utara, total luasan hutan mangrove di Minahasa Utara hingga tahun 2017 mencapai 137 ribu hektar yang tersebar di empat kecamatan. Dari luasan tersebut, luas hutan mangrove di wilayah Kema mencapai 223,48 hektar dengan tingkat kelas kerapatan sedang ke kerapatan tinggi seluas 75,178 hektar.

Ada delapan jenis mangrove yang tumbuh subur di wilayah kema  yaitu Avicennia alba, Avicennia officinalis, Bruguiera gymnorrhiza, Ceriops tagal, Lumnitzera littorea, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata dan Sonneratia alba. Namun dari delapan jenis tersebut hanya mangrove jenis S. alba dan R. mucronata yang banyak mendominasi kawasan mangrove di Kema.

Ricard Gosal, Direktur Sahabat Alam Sulawesi Utara mengatakan, keberadaan hutan mangrove yang membentang dari selatan hingga utara Minahasa diketahui mempunyai arti penting bagi masyarakat. Hutan mangrove di pesisir Utara Minahasa kerap dianggap sebagai sumber kehidupan lantaran selalu dijadikan sebagai lokasi mencari ikan karang dan udang. Kayu dari hutan mangrove juga sering dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan baku arang untuk kebutuhan dapur. Hutan mangrove di Minahasa juga sebagai pelindung garis pantai dalam mencegah abrasi air laut, serta pengatur iklim mikro dan menyerap karbon dioksida (CO2) dari udara. .

“Meski secara umum kondisi hutan mangrove di Minahasa Utara dalam kondisi baik, namun di beberapa wilayah kema terlihat sudah mengalami kerusakan karena adanya konversi lahan untuk dijadikan lahan tambak udang dan reklamasi,”ujar Ricard kepada wartawan awal Desember 2018

Ricard mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan rata-rata penyebab terjadinya peningkatan kerusakan hutan mangrove di Sulawesi Utara dan Minahasa Utara adalah dikarenakan rendahnya pemahaman masyarakat terhadap pelestarian dan pemanfaatan mangrove untuk keberlangsungan sumberdaya alam, Tak sedikit masyarakat menganggap mangrove sebagai tanaman menghambat pembangunan.

“Karenanya tak sedikit yang menebang mangrove tanpa merehabilitasi lagi. Apalagi pemerintah daerah kerap tak tegas pada pengrusak mangrove,”kata Ricard.

Mangrove Meredam Tsunami

Hasil studi Yanagisawa melaporkan wilayah dengan hutan mangrove diketahui lebih kecil terkena dampak gelombang tsunami secara langsung ketimbang wilayah yang tidak memiliki hutan mangrove. Dengan kata lain wilayah yang memiliki hutan mangrov lebih besar kemampuannya dalam mengurangi gelombang tsunami dibandingkan pada wilayah tidak memiliki kawasan hutan mangrov.

Menurut Mazda dalam penelitiannya, kemampuan hutan mangrove mengurangi gelombang tsunami dikarenakan tanaman mangrove memiliki tingkat kerapatan tinggi dan akar yang kuat sehingga mampu mengurangi gelombang secara signifikan. Ada satu jenis tanaman mangrove yang cukup kuat mengurangi gelombang tsunami yaitu Sonneratia alba. Jenis tanaman ini sangat baik lantaran memiliki tingkat kerapatan tinggi dibandingkan jenis tanaman lain seperti Bruguiera dan Rhizophora.

Menurut Edward Henrry Mengko, Kepala Seksi Data dan Informasi, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Manado, gelombang tsunami besar biasanya terjadi pada fase golden time yaitu gelombang yang terjadi pada waktu antara 10-30 menit setelah terjadi gempa. Pada gelombang fase ini masyarakat tidak bisa mengevakuasi diri lantaran waktu sangat singkat untuk mengevakuasi diri ke dataran tinggi secara cepat.

“Biasanya pada fase ini banyak terjadi korban jiwa. Karena itu pengetahuan tentang bencana tsunami harus sudah mulai digalakkan terutama untuk masyarakat pesisir,”ujar Edward.

Edward mengatakan ada 3 jenjang peringatan bahaya tsunami yang harus diketahui masyarakat yaitu peringatan tingkat pertama atau Waspada. Peringatan ini bila ketinggian gelombang tsunami kurang dari 50 cm dan untuk peringatan ini masyarakat diminta menjauhi pantai dan tepian sungai. Kedua peringatan status siaga. Pada tingkatan ini tinggi gelombang tsunami sekitar 50 cm hingga 3 meter. Peringatan status Awas yang ketinggian gelombang tsunami lebih dari 3 meter.

“Untuk dua tingkatan peringatan terakhir masyarakat sudah harus mengevakuasi diri ke daerah ketinggian,”pinta Edward. (***)

Penulis : Sudirman

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed